Anda Pengunjung yang ke:

Minggu, 25 Januari 2009

Membentuk Pribadi Yang Baik

Untuk menuju pribadi yang baik, diperlukan aqidah yang baik. Disini kami akan membahas secara singkat tentang faktor yang mendukung terbentuknya pribadi yang shahih.

Berikut adalah faktor-faktor penting yang berpengaruh dalam pembentukan pribadi yang shahih:

1. Faktor Lingkungan
Ini sangat berperan banyak dalam pembentukan pribadi yang shahih. Karena lingkungan, secara tidak langsung, mendidik kecenderungan pribadi seseorang. Kebaikan suatu lingkungan akan membentuk suatu pribadi yang baik pula. Karena secara penelitian pada umumnya, seseorang dianggap pribadinya buruk karena buruknya pengaruh lingkungannya. Pun begitu sebaliknya. Maka daripada itu, advice yang baik ialah bagaimana menciptakan lingkungan yang baik dan islamiyah? Yaitu menghidupkan perilaku karimah dari pribadi setiap orang muslim. Baru kemudian menciptakan budaya ukhuwah Islamiyah yang thayyibah. Dengan demikian muncullah pribadi yang shahih. Di samping ketentraman dan kebahagiaan adanya.

2. Faktor Pribadi (kesadaran terhadap hidup ini)
Jadi kesadaran untuk selalu berbuat yang baik harus menjadi pondasi penting. Bukan beramal didasari tendenmsi selain keikhlasan. Beramal dengan dipaksa-paksa tanpa didasari ikhlas, yang terjadi adalah makin terseok-seoknya kondisi kita adanya.

3. Faktor Aqidah (Terpenting)
Karena Aqidahlah yang akan membentuk seseorang jadi jahat atau baik. Maka jikalau aqidahnya baik, baiklah pribadinya. Dan begitu pula sebaliknya. Maka dari itu perlu adanya perhatian yang lebih dalam penanaman Aqidah Islamiyah As Shahihah pada diri seorang muslim. Agar pribadinya menjadi pribadi muslim yang shahih.

4. Faktor Ilmu
Kepribadian orang yang punya ilmu, lain dari yang tidak punya ilmu. Orang berilmu ituperbuatannya melambangkan kepribadiannya. Dan perlu dimengerti bahwa perbuatannya adalah desain dari pemikirannya yang didasari dengan ilmu yang matang.

Lebih detail...

Minggu, 02 November 2008

Kapan berdoa dengan mengangkat tangan?

Hukum berdoa pada asalnya dengan mengangkat tangan, akan tetapi disana ada beberapa pengecualian. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Arba’in Nawawiyah

Hukum berdoa pada asalnya dengan mengangkat tangan, akan tetapi disana ada beberapa pengecualian. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Arba’in Nawawiyah

Mengangkat tangan dalam berdoa dibagi kepada tiga keadaan.

1. Riwayat menyebutkan bahwa beliau mengangkat kedua tangannya.
2. Riwayat menyebutkan bahwa beliau tidak mengangkat kedua tangannya.
3. Riwayat tidak menyebutkan keduanya.

Contoh keadaan pertama:
Jika sang khatib berdo'a ketika shalat Istisqa' (meminta hujan) atau istish-ha, maka dalam keadaan ini ia dibolehkan mengangkat kedua tangannya, demikian juga para makmum. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, yaitu kisah seorang Arab dusun (A'rabi). Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam khutbah Jum'at, ia meminta kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk dimintakan kepada Allah hujan, lalu beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdo'a, demikian pula para Sahabat ridwanullahu ajma’in, mengangkat tangan mereka seraya berdo'a bersamanya (HR. Bukhari, HR. Muslim)

Hadits lain menunjukkan dibolehkannya hal ini dalam Qunut Nazilah (karena terjadi perkara yang genting), atau ketika shalat sunnah Witir, juga ketika berada di Shafa dan Marwah, ketika di padang `Arafah, dan saat yang lainnya (berdasarkan riwayat dari beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam), dan perkara ini jelas adanya.

Contoh keadaan kedua:
Riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdo'a, yaitu ketika khutbah jum'at selain khutbah Istisqa' dan Istish-ha. Jika seorang khatib jum'at berdo'a untuk kebaikan kaum muslimin dan muslimah atau kemenangan para mujahidin, maka ia tidak mengangkat ke dua tangannya. Jika ada khatib yang mengangkatnya ketika ia berdo'a, niscaya saya akan mengingkarinya, karena dalam Shahiih Muslim diriwayatkandari `Umarah bin Ru-aibah, bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya ketika di atas mimbar, lalu ia (`Umarah) berkata kepadanya:

” Semoga Allah memburukkan kedua tanganmu ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak melebihkan tatkala sedang berdo'a selain seperti ini, sambil mengangkat jari telunjuknya” (HR. Muslim)

Demikian pula ketika berdo'a dalam shalat, seperti di antara dua sujud, setelah tasyahhud akhir, dan selainnya. Hal ini pun perkaranya jelas.
Contoh keadaan ketiga:
Yakni riwayat yang tidak menyebutkan apakah mengangkat kedua tangan atau tidak. Hukum asal dalam masalah ini adalah dengan mengangkat kedua tangan, karena ia termasuk di antara adab dan sebab dikabulkannya do'a. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


”Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki sifat malu dan Maha pemberi karunia, Dia malu dari hamba-Nya tatkala sang hamba (berdo'a) mengangkat kedua tangannya (ke langit) jika keduanya dikembalikan dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan)” (HR. Ahmad, Al-Hakim, At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Bany dalam Shahihul Jami no,1757)

Akan tetapi didapati keadaan-keadaan di mana ditegaskan tidak mengangkat kedua tangan ketika berdo'a, seperti ketika duduk di antara dua khutbah (Jum'at). Dalam hal ini kita tidak mengetahui satu Sahabat pun yang mengangkat tangan di saat seperti ini. Banyak pendapat (pandangan) tentang mengangkat tangan di saat seperti ini. Orang yang mengangkatnya dengan dalil bahwa hukum asal berdo'a adalah dengan mengangkat kedua tangan, maka hal itu tidak diingkari. Dan orang yang tidak mengangkatnya dengan alasan para Sahabat tidak pernah melakukannya, maka hal ini pun tidak diingkari. Intinya, dalam perkara seperti ini terdapat keleluasaan, insya Allah.

Lebih detail...

Karena Itulah Aku Cinta


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa?


Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon lima belas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan.... menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detail dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi, kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania.

"Nania serius!" tegasnya
"Apa lucunya jika Rafli memang melamar Nania ?" lanjutnya.
"Tidak ada yang lucu!!" suara Papa tegas,
"Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara.
"Maksud Mama siapa saja boleh datang melamar, tapi jawabannya tidak harus iya, kan?" lanjut mama dengan nada penuh wibawa

Nania terkesima.

"Kenapa?" tanyanya.
"Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. kamulah yang paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang..., kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!" jawab Mama.
"Nania Cuma mau Rafli" sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!" tiga saudaranya turut berpendapat.
"Cukup!" Nania menjadi marah.

Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Akhirnya mereka menikah.

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya,

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!".

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

"Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!" Nania membela.
"Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?"
"Rafli juga pintar!"
"Tidak sepintarmu, Nania"
"Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan"
"Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu"

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu"

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. "Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang" ujar Nania pada Rafli.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?" jawabnya lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

"Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu"
"Belum ada perubahan, Bu"
"Sudah bertambah sedikit", kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit".
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.


"Bang?" Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
"Dokter?"
"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar" jawab dokter.
"Mungkin?"Rafli dan Nania berpandangan.
"Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?".

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta..." Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, Cinta..."
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"

"Nania beruntung!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya"
"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!".

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?. Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Untukmu yang telah menjadi seorang suami……dan untukmu yang telah menjadi seorang istri. Percayalah….bahwa Cinta itu akan menutupi segalanya
(www.islamuda.com)

Lebih detail...

Menghitung Umur

Berapa umurmu sekarang? 15? 18? Atau 24 tahun? Yup, kamu sendiri yang bisa menjawabnya. Soal berapa waktu yang telah kita lalui sampai sekarang di dunia ini, kita ga ragu kok, kamu pasti bisa menghitung dengan pasti. Selama kita ngerti kapan kita keluar dari rahim bunda. Tapi, apa memang bener umur yang tertera di KTP atau kartu pelajar kita tadi udah mencerminkan usia kita yang sesungguhnya? Jangan-jangan rentang waktu kita di dunia ini baru 2 minggu atau malahan baru saja nongol jadi manusia yang hakiki. Bingung ya. Hehe, kita awali artikel kita yang satu ini, dengan sebuah pertanyaan yang simpel. Kelihatannya gampang untuk kita menghitungnya, namun kenyataannya, ga semudah itu. Maksud lo? Eng ing eng...oke untuk lebih jelasnya kita kupas secara konkrit di bawah ini.

Sobat, kehidupan kita di bumi tempat raga berpijak ini ga akan kekal. Suatu saat kita bakal menemui apa itu ajal. Tentunya kita semua yakin-seyakin-yakinnya akan hal ini. Kalo yang namanya maut, ga akan bisa dimajukan ataupun dimundurkan walau sesaat. Sayangnya, ga ada satupun dari kita yang tahu kapan kematian menjemput. Ki Joko Bodho kek, Mama Lauren kek, Dedy Corbuzier kek, ga ada yang tahu. Artinya, kita kudu bener-bener siap saat “dia” datang. Nah, sudah siapkah kita? Mayoritas kita akan menjawab dengan lantang, “BELUM!!” Ya, sampai kapanpun kita ga akan pernah siap dengan yang namanya ajal. Meski demikian, mau tidak mau, senang atau tidak, “dia” bakal hadir di kehidupan kita, entah kapan. Bisa 20 tahun ke depan, 2 tahun lagi, 2 minggu, atau malah 2 jam lagi. Kita sendiri ga ngerti kapan.

Nah, oleh karena itu, satu-satunya cara adalah kita memaksakan diri untuk siap menghadapi ajal. Ya, paksakan. Bila kita saat ini malas untuk sholat, paksakan untuk sholat. Jika hari ini kita ga ingin berinfak, paksakan untuk berinfak. Kalo sekarang kita minder untuk belajar Islam, paksakan supaya kita bisa belajar Islam. Kalo bukan sekarang, kapan lagi. Ga ada yang mau jamin, kita bisa hidup di esok hari. Entah itu Pak SBY, Pak Yusuf Kalla atau siapapun, ga ada yang berani jamin.

Meski kelihatannya berat, dan menjadi sebuah beban, untuk berbuat suatu kebaikan, pasti membutuhkan awalan. Nah, awal inilah yang harus kita raih. Awalan inilah, sejatinya umur kita di dunia. Ya, awalan bagi diri ini untuk berbuat kebaikan dan ibadah. Tunduk sepenuhnya pada Allah SWT. Bila kita mengawali kebaikan ini pada umur 15 dan umur kita sekarang 18, maka umur kita baru 3 tahun. Bila kita mengawalinya pada umur 20, sedangkan umur kita sekarang 24, maka umur kita baru aja 4 tahun. Nah, kalo kita baru aja mengawali kebaikan dan bertobat 2 minggu lalu, tentunya umur kita juga baru 2 minggu. Padahal, kita ga ngerti kapan ajal menjemput.

Sobat, ibadah yang kita lakukan di dunia inilah yang menjadi bekal kita di hari esok. Dimana? Di akhirat dong. Sehingga ga salah kalo kita kudu mempersiapkan bekal ini sebaik-baiknya. Karena bekal inilah yang akan menentukan sukses atau tidaknya kita di akhirat nanti. Dan kita kudu mempersiapkan bekal sebaik mungkin.

Selama kita berbuat kebaikan, dan diiringi oleh belajar Islam, secara perlahan dan pasti akan tumbuh yang namanya kesadaran dan keikhlasan. Yang akhirnya akan bikin diri ini bangun dan ngerti, kalo yang namanya ibadah itu, kitalah yang butuh. Bukan Allah, bukan malaikat dan bukan jin.

Karena itulah sobat, mulai sekarang deh itung-itung umur kita. Mumpung kita masih punya raga dan nyawa. Artinya kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk berbakti pada-Nya. Kokohkanlah iman kita, kuatkanlah diri kita. Ngomong-ngomong soal kuat, tahukah kamu siapakah orang yang kuat itu? Kalo jawabanmu itu Superman, berarti kamu salah…, wong Superman aja keok ama Louis Lane. Kok bisa salah sih jawaban kita, ya kesalahan itu datang dari pemahaman kita yang salah juga…

Tahu ga sih kalo bukti orang-orang yang kuat ga akan kita temui pada sosok Spiderman, Superman, Batman, Rambo dll. Kenapa? Soalnya kekuatan mereka cuma ngendon pada fisiknya doang, selain itu ga ada yang lain.

Sobat, orang yang kuat itu adalah orang yang punya prinsip dalam hidupnya. Dia berani ngomong yang benar, meski yang lain mbela yang salah. Dia berani bilang “TIDAK” pada kemaksiatan, di saat yang orang lain lagi enjoy ama dosanya. Dia berani megang prinsip yang haq itu pasti dan yang bathil kudu dibasmi. Walau dia ngerti konsekuensinya bakal ga gampang. Mungkin aja dibenci teman, dijauhi rekan, but it’s okay selama Allah masih menjadi kekasih kita....

Yup, hitunglah umur kita mulai saat ini. Kokohkan iman kita dalam hidup ini. Raih bekal terbaik dalam menghadapi ajal. Dan sukseslah menempuh kehidupan sejati di akhirat. Yuk...(www.islamuda.com)

Lebih detail...

Minggu, 21 September 2008

Islam, setengah-setengah?

Apakah Islam itu? Kepercayaankah?Identitaskah? Atau yang lagi gembor-gembornya, Golongan teroriskah?
Kok banyak banget pertanyaannya? Berarti Islam itu nggak jelas, dong!?
Ups… Astaghfirullah……
Sudah ada sekian banyak penjelasan tentang Islam yang telah disampaikan saudara-saudara kita dari kalangan ulama, sahabat, bahkan Nabi Muhammad serta Al-Qur’an telah menjelaskan: What is Islam?, Apa itu Islam?. Mungkin karena penjelasannya terlalu banyak, malah jadi nggak jelas. Atau orangnya yang nggak jelas?



“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Baqoroh:208)

Saudaraku sesama manusia, makhluk Allah. Tak peduli apa agama anda, tak peduli apa bangsa anda, apa warna kulit anda, berapa ukuran sepatu anda. Saya tak peduli itu semua. Kalau anda ingin belajar bersama tentang Islam, silahkan baca uraian saya. Kalau tidak, ya nggak usah dibaca. Tujuan saya tulis makalah sederhana ini adalah membagi sedikit ilmu yang saya miliki kepada semua manusia, baik itu orang yang belum mencicipi Islam ataupun sudah mencicipi tapi belum merasakan kenikmatannya. Disinilah saya ingin mengajak anda untuk belajar bersama mengenai Islam secara Kaafah, Islam secara menyeluruh.
Ayat Al-Qur’an yang saya kutip di atas menerangkan gambaran secara global, secara umum, tentang apa yang akan kita bahas:
Ø Apakah Islam itu?
Ø Kepercayaankah?
Ø Identitaskah?
Ø Atau yang lagi gembor-gembornya, Golongan teroriskah?
Kok banyak banget pertanyaannya? Berarti Islam itu nggak jelas, dong!?
Ups… Astaghfirullah……
Sudah ada sekian banyak penjelasan tentang Islam yang telah disampaikan saudara-saudara kita dari kalangan ulama, sahabat, bahkan Nabi Muhammad serta Al-Qur’an telah menjelaskan: What is Islam?, Apa itu Islam?. Mungkin karena penjelasannya terlalu banyak, malah jadi nggak jelas. Atau orangnya yang nggak jelas?
Nggak usah dibahas…
Mari kita bahas tentang penjelasan Islam dalam ayat Al-Qur’an yang saya kutip di atas. Dalam ayat di atas, Allah menyeru dengan seruan:

“ Wahai orang-orang yang beriman!!!...”

Yang menandakan bahwa ayat ini turun di kota Madinnah. Berarti Rasulullah telah hijrah. Kalau sudah hijrah, berarti syari’at mulai dibangun dan diterapkan sedikit demi sedikit. Tadrijiyyan. Step by step.
Kok yang dipanggil “orang-orang yang beriman”? Ada apa gerangan?
Begini saudaraku…
Orang yang beriman berarti telah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya dan Muhammad adalah rasul-Nya yang terakhir serta Al-Qur’an adalah firman-Nya. Dan orang beriman adalah dia yang sudah menyatakan itu semua dalam bentuk kesaksian (syahadatain):
“Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.

Kalau belum menyatakan, belum bisa dikatakan beriman. Sebab iman (secara bahasa: percaya) adalah meyakini dalam hati, menyatakan dalam perkataan, mengerjakan dengan perbuatan. Yang dibahas dalam ayat ini, mereka yang sudah menyatakan Islam dengan perkataan, namun masih belum maksimal dalam perbuatan. Sederhananya, ketika kita berniat mendaftar ke sekolah favorit kita dan kita telah menyatakan mendaftar untuk menjadi murid sekolah tersebut, otomatis kita akan dikenai konsekuensi yang ada. Uang pendaftaran, foto 3 x 4, ijazah, tes ujian masuk, dll. Kalau tidak memenuhi itu semua, jangan harap kita akan diterima. Begitulah kenapa Allah menyeru dengan panggilan, “Wahai orang-orang yang beriman”.

Sedangkan bagi mereka yang tidak berniat masuk sekolah tersebut dan tidak mendaftar, maka tidak diwajibkan atas itu semua. Begitupula dengan orang kafir, mereka tidak diwajibkan atas peraturan internal Islam. Sedangkan syari’at, mereka harus tetap mematuhi. Karena syari’at itu untuk seluruh umat manusia, bukan hanya umat Islam .

Dan kalau orang sudah menyatakan syahadatain, memasuki gerbang Islam, maka wajiblah ia untuk mengikuti konsekuensi yang ada, yaitu:

“…Masuklah engkau ke dalam Islam secara kaafah (keseluruhan)…”

Keseluruhan. Jangan setengah-setengah. Jangan membawa yang telah lalu. Jangan jiwanya masuk, jasadnya tidak, atau sebaliknya. Jangan menentang syari’at (peraturan) Islam. Patuhilah apa yang diperintahkan. Jauhilah apa yang dilarang.
Sederhananya, Islam Kaafah adalah menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Bukan hanya ritual, tetapi semua aspek kehidupan. Baik ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain.
Maka sungguh sangat keliru orang-orang yang mengatakan Islam hanya ritual. Hanya doa. Dan berkata, “Agama tidak usah dicampurkan dengan politik, budaya atau yang lain agama hanyalah kepercayaan”.
Kalau yang menyatakan adalah orang Islam sendiri (gerombolannya Jaringan Islam Liberal), sungguh telah sesat dan dusta serta murtad di hadapan Allah. Itulah aliran sesat hakiki.
Dan semoga orang-orang yang menyatakan hal itu akan mendekam dalam neraka Jahannam, kekal di dalamnya, serta tak ada barakah dalam hartanya, dan mati dalam keadaan yang sangat hina. Lebih hina dari bangkai tikus yang terlindas truk sampah di depan tempat pembuangan sampah!!!. Amien...
Karena Islam bukan sekedar ideologi. Tapi lebih dari itu, Islam adalah way of life, jalan hidup, pedoman hidup.

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq (benar) dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq (benar) itu , sedang kamu mengetahui" (QS. Al-Baqorah:42)

Kalau Islam, ya Islam. Jangan lihat yang lain. Jangan mencampur dengan ajaran nenek moyang. Karena Islam bukan aaran nenek moyang.
Kata-kata ketiga dari ayat yang kita bahas adalah

“janganlah engkau mengikuti langkah-langkah syaithon”

Ada yang menarik di kalimat ini,yaitu:

“Jangan engkau mengikuti langkah-langkah syaithon”

Mengapa tidak dikatakan:

“Janganlah engkau mengikuti syaithon”

Allah menjawabnya di ayat lain:

“kemudian saya (syaithon) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur” (Al-A’raf:17)

Artinya, syaithon sangat paham betul seluk beluk kelemahan manusia. Kalau tidak dari sisi sebelah sini, ia akan mengajak dari sisi lainnya. Tidak bisa lagi, ia serang dari sisi berikutnya. Tak kenal lelah.
Karena raja syaithon, iblis-la’anahullah abadan- telah berjanji:

"Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,

Namun ia sendiri memberikan kunci dan jalan keluarnya dari godaannya pada ayat selanjutnya:

kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (Shad:82-83)

Karena itu bila kita telah berislam, konsekuensinya telah kita bahas di atas. Pertama, masuklah ke dalam Islam secara kaafah. Kedua, jauhi langkah-langkah syaithon. Kini secercah petunjuk telah kita dapat. Semoga Allah memberi manfaat atas apa yang telah kita bahas.


Lebih detail...

19 Tanda Gagal Ramadhan

Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Ada apa gerangan? Pasti ada yang salah!!!!
Berikut ini kiat-Kiat menghindarinya gagalnya Ramadhan :

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya'ban

Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya'ban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam,
Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu 'anha berkata,

"Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Sya'ban."


2. Gampang mengulur shalat fardhu.

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih." (QS. Maryam: 59)

"Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya." (QS. Al-Ma'un: 4-5)

Menurut Sa'id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya.
Misalnya menjalankan shalat Zhuhur menjelang waktu Ashar, Ashar menjelang Maghrib, shalat Maghrib menjelang Isya’, shalat Isya’ menjelang
waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang berpuasa Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.




3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Termasuk di dalamnya menjalankan “Qiyamul lail”. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.

"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (QS.Al-Anbiya:90)

"Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya." (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya.
Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah).
Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.
Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Qur'an.

Ramadhan juga disebut “syahrul Qur'an”, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur'an.

"Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur'an."
(HR. Baihaqi)

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya".(HR Bukhari)

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.
6. Mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: "Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah."

Dalam hadits lain beliau bersabda: "Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah, “sesesungguhnya saya sedang berpuasa”." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta

"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik.
Umar ibn Khattab Ra berkata: "Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia." (Al Muhalla VI: 178).

Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak:
"Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan."

8. Memutuskan tali silaturrahim.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: ".Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya."
Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.

Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.

Al-Qur'an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main:

"Allah bertanya: ' Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?'

Mereka menjawab: 'Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka
tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.'

Allah berfirman: 'Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. "Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai 'Arsy yang mulia." (QS. Al-Mu'minun: 112-116)

Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

10. Labil dalam menjalani hidup.

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani
hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw:

"Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya." (HR. Ahmad, Nasa'i, Baihaqi dari Abu Hurairah)

Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.



11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan amar ma'ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, maka ia telah gagal pada bulan Ramadhan.

12. Khianat terhadap amanah.

Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjama'ah.

Frekuensi shalat berjama'ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama'ah, yang saling menguatkan.

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (QS. Ash-Shaf: 4)

Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama'ah.

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.

Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah (pemahaman) dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.
15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.

Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.

Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah.

Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.

"Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18 )

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.

Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelang Idul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.

Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Secara harfiah makna Idul Fitri berarti “hari kembali ke fitrah”. Namun kebanyakan orang memandang Idul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari "penjara" Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Idul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.

Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Idul Fitri, dan bukan sebaliknya.





dikutip dari Hidayatullah.com http://Hidayatullah.com,25 Oktober 2004.Ditulis 30 Agustus 2008. Sangat dianjurkan untuk diperbanyak dan anda sebarkan kepada saudara dan kerabat anda. Semoga Allah memberkahi apa yang telah anda kerjakan,
Amien…


Lebih detail...