Apakah Islam itu? Kepercayaankah?Identitaskah? Atau yang lagi gembor-gembornya, Golongan teroriskah?
Kok banyak banget pertanyaannya? Berarti Islam itu nggak jelas, dong!?
Ups… Astaghfirullah……
Sudah ada sekian banyak penjelasan tentang Islam yang telah disampaikan saudara-saudara kita dari kalangan ulama, sahabat, bahkan Nabi Muhammad serta Al-Qur’an telah menjelaskan: What is Islam?, Apa itu Islam?. Mungkin karena penjelasannya terlalu banyak, malah jadi nggak jelas. Atau orangnya yang nggak jelas?
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Baqoroh:208)
Saudaraku sesama manusia, makhluk Allah. Tak peduli apa agama anda, tak peduli apa bangsa anda, apa warna kulit anda, berapa ukuran sepatu anda. Saya tak peduli itu semua. Kalau anda ingin belajar bersama tentang Islam, silahkan baca uraian saya. Kalau tidak, ya nggak usah dibaca. Tujuan saya tulis makalah sederhana ini adalah membagi sedikit ilmu yang saya miliki kepada semua manusia, baik itu orang yang belum mencicipi Islam ataupun sudah mencicipi tapi belum merasakan kenikmatannya. Disinilah saya ingin mengajak anda untuk belajar bersama mengenai Islam secara Kaafah, Islam secara menyeluruh.
Ayat Al-Qur’an yang saya kutip di atas menerangkan gambaran secara global, secara umum, tentang apa yang akan kita bahas:
Ø Apakah Islam itu?
Ø Kepercayaankah?
Ø Identitaskah?
Ø Atau yang lagi gembor-gembornya, Golongan teroriskah?
Kok banyak banget pertanyaannya? Berarti Islam itu nggak jelas, dong!?
Ups… Astaghfirullah……
Sudah ada sekian banyak penjelasan tentang Islam yang telah disampaikan saudara-saudara kita dari kalangan ulama, sahabat, bahkan Nabi Muhammad serta Al-Qur’an telah menjelaskan: What is Islam?, Apa itu Islam?. Mungkin karena penjelasannya terlalu banyak, malah jadi nggak jelas. Atau orangnya yang nggak jelas?
Nggak usah dibahas…
Mari kita bahas tentang penjelasan Islam dalam ayat Al-Qur’an yang saya kutip di atas. Dalam ayat di atas, Allah menyeru dengan seruan:
“ Wahai orang-orang yang beriman!!!...”
Yang menandakan bahwa ayat ini turun di kota Madinnah. Berarti Rasulullah telah hijrah. Kalau sudah hijrah, berarti syari’at mulai dibangun dan diterapkan sedikit demi sedikit. Tadrijiyyan. Step by step.
Kok yang dipanggil “orang-orang yang beriman”? Ada apa gerangan?
Begini saudaraku…
Orang yang beriman berarti telah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya dan Muhammad adalah rasul-Nya yang terakhir serta Al-Qur’an adalah firman-Nya. Dan orang beriman adalah dia yang sudah menyatakan itu semua dalam bentuk kesaksian (syahadatain):
“Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.
Kalau belum menyatakan, belum bisa dikatakan beriman. Sebab iman (secara bahasa: percaya) adalah meyakini dalam hati, menyatakan dalam perkataan, mengerjakan dengan perbuatan. Yang dibahas dalam ayat ini, mereka yang sudah menyatakan Islam dengan perkataan, namun masih belum maksimal dalam perbuatan. Sederhananya, ketika kita berniat mendaftar ke sekolah favorit kita dan kita telah menyatakan mendaftar untuk menjadi murid sekolah tersebut, otomatis kita akan dikenai konsekuensi yang ada. Uang pendaftaran, foto 3 x 4, ijazah, tes ujian masuk, dll. Kalau tidak memenuhi itu semua, jangan harap kita akan diterima. Begitulah kenapa Allah menyeru dengan panggilan, “Wahai orang-orang yang beriman”.
Sedangkan bagi mereka yang tidak berniat masuk sekolah tersebut dan tidak mendaftar, maka tidak diwajibkan atas itu semua. Begitupula dengan orang kafir, mereka tidak diwajibkan atas peraturan internal Islam. Sedangkan syari’at, mereka harus tetap mematuhi. Karena syari’at itu untuk seluruh umat manusia, bukan hanya umat Islam .
Dan kalau orang sudah menyatakan syahadatain, memasuki gerbang Islam, maka wajiblah ia untuk mengikuti konsekuensi yang ada, yaitu:
“…Masuklah engkau ke dalam Islam secara kaafah (keseluruhan)…”
Keseluruhan. Jangan setengah-setengah. Jangan membawa yang telah lalu. Jangan jiwanya masuk, jasadnya tidak, atau sebaliknya. Jangan menentang syari’at (peraturan) Islam. Patuhilah apa yang diperintahkan. Jauhilah apa yang dilarang.
Sederhananya, Islam Kaafah adalah menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Bukan hanya ritual, tetapi semua aspek kehidupan. Baik ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain.
Maka sungguh sangat keliru orang-orang yang mengatakan Islam hanya ritual. Hanya doa. Dan berkata, “Agama tidak usah dicampurkan dengan politik, budaya atau yang lain agama hanyalah kepercayaan”.
Kalau yang menyatakan adalah orang Islam sendiri (gerombolannya Jaringan Islam Liberal), sungguh telah sesat dan dusta serta murtad di hadapan Allah. Itulah aliran sesat hakiki.
Dan semoga orang-orang yang menyatakan hal itu akan mendekam dalam neraka Jahannam, kekal di dalamnya, serta tak ada barakah dalam hartanya, dan mati dalam keadaan yang sangat hina. Lebih hina dari bangkai tikus yang terlindas truk sampah di depan tempat pembuangan sampah!!!. Amien...
Karena Islam bukan sekedar ideologi. Tapi lebih dari itu, Islam adalah way of life, jalan hidup, pedoman hidup.
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq (benar) dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq (benar) itu , sedang kamu mengetahui" (QS. Al-Baqorah:42)
Kalau Islam, ya Islam. Jangan lihat yang lain. Jangan mencampur dengan ajaran nenek moyang. Karena Islam bukan aaran nenek moyang.
Kata-kata ketiga dari ayat yang kita bahas adalah
“janganlah engkau mengikuti langkah-langkah syaithon”
Ada yang menarik di kalimat ini,yaitu:
“Jangan engkau mengikuti langkah-langkah syaithon”
Mengapa tidak dikatakan:
“Janganlah engkau mengikuti syaithon”
Allah menjawabnya di ayat lain:
“kemudian saya (syaithon) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur” (Al-A’raf:17)
Artinya, syaithon sangat paham betul seluk beluk kelemahan manusia. Kalau tidak dari sisi sebelah sini, ia akan mengajak dari sisi lainnya. Tidak bisa lagi, ia serang dari sisi berikutnya. Tak kenal lelah.
Karena raja syaithon, iblis-la’anahullah abadan- telah berjanji:
"Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
Namun ia sendiri memberikan kunci dan jalan keluarnya dari godaannya pada ayat selanjutnya:
kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (Shad:82-83)
Karena itu bila kita telah berislam, konsekuensinya telah kita bahas di atas. Pertama, masuklah ke dalam Islam secara kaafah. Kedua, jauhi langkah-langkah syaithon. Kini secercah petunjuk telah kita dapat. Semoga Allah memberi manfaat atas apa yang telah kita bahas.
Anda Pengunjung yang ke:
Minggu, 21 September 2008
Islam, setengah-setengah?
Label:
Pondasi Islam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar